Rabu, 25 Februari 2015



Aswaja dalam Bingkai NKRI
Menjawab Tantangan Global bagi Remaja Indonesia

Sebagai bangsa, Indonesia adalah sebuah komunitas sosial dengan letak geografis di Nusantara, dimana setiap jengkal tanahnya dihuni oleh segala keanekaragaman masyarakat yang plural dan heterogen, baik suku, ras, agama dan tradisi-budaya yang hampir mirip dengan masyarakat Madinah di era Rasulullah saw. Kesadaran akan kesamaan "nasib sejarah" yang dialami, mengilhami putra-putra Nusantara kala itu mengikrarkan kesatuan kebhinekaannya dalam Sumpah Pemuda tahun 1928.
Sebagai sebuah negara, Indonesia lahir dari pengalaman sejarah ketertindasan penjajahan yang lebih dari 4,5 abad sejak kolonialisme Portugis, Inggris, Belanda hingga Jepang, yang kemudian memproklamirkan kemedekaannya tahun 1945. Sebuah negara kesatuan yang berdasarkan Pancasila dan UUD '45 sebagai idiologi kompromis untuk mengayomi secara adil kenyataan rakyatnya yang plural.
Sama halnya dengan perjalanan sejarah bangsa ini, potret pendidikan yang ada saat ini merupakan hasil dari proses berkembangnya pendidikan sejak zaman kolonialisme yang dipengaruhi oleh iklim pendidikan dunia, baik dari dunia Barat yang bersifat modernis dan rasiolnalis, dunia Timur yang bersifat tradisionalis, ataupun dualisme yang merupakan gabungan antara kedua model pendidikan.
Kemajemukan masyarakat dan latar belakang penjajahan yang terjadi di Indonesia seolah membentuk sistem dualisme pendidikan, yaitu adanya sekolah dan madrasah. Sekolah-sekolah yang berkembang merupakan warisan sistem kolonial yang dikelola oleh pemerintah. Maksud dari dualisme pendidikan ini adalah masuknya pelajaran keagamaan dalam kurikulum sekolah, yang awalnya sekolah hanya mencakup ilmu-ilmu pengetahuan umum, ilmu alam, ilmu sosial, dan pengetahuan teknologi. Kemudian agama Islam yang telah meyebar di sebagian besar wilayah nusantara, menerapkan model pelaksanaan pendidikan berupa madrasah sebagai pembaruan pesantren. Madrasah yang pada dasarnya hanya mempelajari disiplin ilmu keagamaan yakni tentang Islam secara menyeluruh, dalam sistem dualisme pendidikan ditambahi dengan ilmu pengetahuan umum, ilmu alam, sosial, dan perkembangan teknologi.
Adanya dualisme pendidikan di Indonesia pada hakikatnya adalah untuk menyeimbangkan kompetensi dan karakter pelajar Indonesia secara intelegensi dan emosionalnya. Namun seiring berjalannya waktu dan pengaruh dari berbagai aspek kehidupan yang ada di Indonesia, sistem dualisme ini belum mampu mencapai tujuannya dalam menyeimbangkan pelajar. Minat pelajar terhadap ilmu pengetahuan yang rendah karena keterbatasan sarana dan prasana, motivasi yang kurang, serta arus globalisasi dan teknologi tanpa batas di zaman mutakhir ini yang telah masuk dalam pemikiran sebagian besar pelajar Indonesia merupakan faktor dalam kemunduran karakter dan kepribadian pelajar bangsa ini.
Dari permasalahan  di atas, maka berbagai macam cara dilakukan oleh pemerintah mulai dari merubah kurikulum, peningkatan sarana dan prasana pendidiakan sampai internalisasi nilai-nilai bangsa dalam mata pelajaran tertentu. Perubahan dan perkembangan kurikulum Indonesia menurut data dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan sudah terjadi 12 kali mulai dari kurikulum tahun 1947 tentang rencana pelajaran sampai kurikulum 2013 tentang pendidikan karakter.
Sistem yang berjalan hanya satu arah tentunya tidak akan berhasil dalam menyelesaikan permasalahan dan mencapai tujuan. Sama halnya dengan program dan upaya pemerintah yang berjalan sendiri tanpa dukungan dan kerjasama dari berbagai pihak. Sebagai organisasi kemasyarakatan dengan basis sosial keagamaan yang berkembang di Indonesia, Nahdlatul ‘Ulama atau yang sering disebut dengan NU dengan konsep Aswajanya.
Pendidikan Aswaja dikembangkan sebagai nilai pendidikan Islam di Indonesia. Disamping itu pendidikan Aswaja muncul karena kebutuhan masyarakat Indonesia, yaitu pendidikan agama dan moral.
 Hal di atas dapat dibuktikan dengan keadaan bangsa yang kita rasakan sekarang. Dewasa ini banyak anak cucu kita yang berstatus sebagai pelajar terkesan lebih condong pada budaya Barat. Dari gaya hidup hedonis praktis dan pola pikir pendek dan usaha instan untuk mencapai sesuatu yang diinginkan. Terlebih lagi perilaku taqlid buta terhadap hal-hal baru yang menjadi trend remaja dan pelajar terkini. Hal itu membuktikan bahwasannya nilai agama dan nilai moral generasi penerus bangsa ini melemah. Akan tetapi, permasalahan tersebut adalah bagaimana jika para orang tua lemah dalam nilai-nilai agama dan moralitas. Sehingga tak ada contoh bagi pemuda bangsa untuk memperbaiki moral?.
Pendidikan Aswaja muncul sebagai jawaban dari pertanyaan di atas. Pendidikan Aswaja mempunyai kelebihan, salah satunya: pendidikan Aswaja tidak hanya ditujukan ke lembaga pendidikan saja namun juga ditujukan kepada masyarakat luas. Hal ini dapat memperkuat aspek agama maupun moralitas masyarakat. Selain itu pendidikan Aswaja merupakan suatu upaya yang dilakukan secara sadar, terarah dan berkesinambungan untuk memperkenalkan dan menanamkan paham keagamaan Aswaja kepada peserta didik, agar mereka mengetahui, meyakini dan mengamalkannya dalam pengertian menjadikannya sebagai pedoman kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Pendidikan Aswaja dilakukan melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, latihan, serta pengalaman belajar.
Konsep dalam pendidikan Aswaja berdasarkan pada trilogi agama yaitu Islam, Iman, dan Ihsan yang saling melengkapi satu sama lain dan berjalan seimbang dalam perilaku dan penghayatan keagamaan umat. Seperti yang ditegaskan dalam firman Allah:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya. (QS. Al Baqarah: 208)
Imam Izzuddin bin Abdissalam mengatakan, ”hakikat Islam adalah aktifitas badaniah (lahir) dalam menjalankan kewajiban agama, hakikat iman adalah aktifitas hati dalam kepasrahan, dan hakikat ihsan adalah aktifitas ruh dalam penyaksian (musyâhadah) kepada Allah”.
Tiga dasar utama ini apabila telah tertanam pada setiap pelajar, maka bangsa ini akan semakin maju, secara pemikiran dan nilai luhur yang membanggakan. Lebih lanjut, dalam konsep Aswaja terdapat metodologi pemikiran atau manhaj al fikr yaitu  tengah dan moderat (tawassuth), berimbang atau harmoni (tawâzun), netral atau adil (ta'âdul), dan toleran (tasâmuh).
Tawassuth ialah sebuah sikap tengah atau moderat yang tidak cenderung ke kanan atau ke kiri. Dalam konteks berbangsa dan bernegara, pemikiran moderat ini sangat urgen menjadi semangat dalam mengakomodir beragam kepentingan dan perselisihan, lalu berikhtiar mencari solusi yang paling ashlah (terbaik). Sikap ini didasarkan pada firman Allah:
وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا
Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. (QS. Al Baqarah: 143)
Penanaman sikap Tawasuth dalam diri pelajar akan membentuk pribadi yang kuat pendirian dan tidak mudah terbawa oleh arus global yang tidak tentu arah, namun mampu menempatkan diri dalam perkembangan zaman dengan ciri khas dan corak pemikiran tersendiri. Sehingga dapat mencapai tujuan dan harapan secara maksimal untuk dirinya, agama, dan bangsa.
Tawâzun ialah sikap berimbang dan harmonis dalam mengintegrasikan dan mensinergikan dalil-dalil (pijakan hukum) atau pertimbangan-pertimbangan untuk mencetuskan sebuah keputusan dan kebijakan. Dalam konteks pemikiran dan amaliah keagamaan, prinsip tawâzun menghindari sikap ekstrim (tatharruf) yang serba kanan sehingga melahirkan fundamentalisme, dan menghindari sikap ekstrim yang serba kiri yang melahirkan liberalisme dalam pengamalan ajaran agama. Sikap tawâzun ini didasarkan pada firman Allah:
لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ
Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Alkitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. (QS. Al Hadid: 25)
Prinsip tawazun dikalangan pelajar akan memberi modal dasar bagi ketegasan dalam mengambil sikap. Sehingga pelajar tidak akan lagi mengikuti trend globalisasi tanpa dasar, arah, dan tujuan yang jelas.
Ta'âdul ialah sikap adil dan netral dalam melihat, menimbang, menyikapi dan menyelesaikan segala permasalahan. Adil tidak selamanya berarti sama atau setara (tamâtsul). Adil adalah sikap proporsional berdasarkan hak dan kewajiban masing-masing. Sikap ta'âdul ini berdasrkan firman Allah:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى
Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. (QS. Al Ma'idah: 9)
Pemahaman tentang keadilan dalam diri pelajar akan membentuk pribadi-pribadi yang sadar akan posisi, tugas, hak, dan tanggung jawabnya. Sehingga pelajar mampu memaksimalkan potensinya dalam tugas dan tanggung jawabnya untuk menyeimbangkan dengan hak yang akan diperoleh.
Tasâmuh ialah sikap toleran yang bersedia menghargai terhadap segala kenyataan perbedaan dan keanekaragaman, baik dalam pemikiran, keyakinan, sosial kemasyarakatan, suku, bangsa, agama, tradisi-budaya dan lain sebagainya. Toleransi dalam konteks agama dan keyakinan bukan berarti kompromi akidah. Allah swt. berfirman:
لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِيْنِ
Untukmulah agamamu, dan untukkulah, agamaku. (QS. Al Kafirun: 6)
Tasâmuh (toleransi), berati sebuah sikap untuk menciptakan keharmonisan kehidupan sebagai sesama umat manusia. Sebuah sikap untuk membangun kerukunan antar sesama makhluk Allah di muka bumi, dan untuk menciptakan peradaban manusia yang madani.
Toleransi di antara pelajar juga merupakan hal penting. Adanya perbedan pendapat dan pemikiran serta berbagai keanekaragaman kehidupan di sekitar pelajar bukan menjadi hal yang harus diseragamkan dengan paksaan. Namun disikapi dengan saling menghargai, menjadikan keanekaragaman sebagai suatu kondisi yang saling melengkapi, sehingga memotivasi untuk semakin lebih baik.
Dari metodologi pemikiran paham Aswaja di atas, sebagai organisasi sosial keagamaan NU, memiliki komitmen yang tinggi terhadap gerakan kebangsaan dalam menyelesaikan permasalahan di masyarakat. Konsep Aswaja dengan program pemerintah dalam realitanya berjalan berdampingan dan saling melengkapi. Integrasi Aswaja dalam pendidikan Indonesia  juga tercermin dalam pengembangan kurikulum terbaru yang belum berlaku, yaitu kurikulum 2013 yang menekankan aspek pengembalian dan perbaikan karakter bangsa yang mulai memudar akibat arus globalisasi dan asimilasi budaya seiring dengan kemajuan teknologi akhir zaman.

           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar